Melompat Dan Memahami Resikonya

Saya sering mendengarkan keluhan dari teman maupun keluarga. Mengeluhkan ketidaknyamanan, sudah tidak betah di tempet kerjanya, merasa diremehkan, direndahkan di tempat kerjanya. Merasa terkukung oleh lingkungan keluarga sehingga tidak bisa berkembang.

Kebanyakan saya sering menyarankan “Melompatlah” ke tempat lain, melompat ke lingkungan lain dan semuanya itu intinya melompat ke titik lain dari titik tempat mereka berdiri sekarang.  Tapi beberapa menjadi ragu dan merasa takut untuk melompat. Takut kehilangan teman-teman di lingkungan yang sekarang, khawatir tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji sebesar yang mereka dapatkan sekarang. Tapi saya pikir itu wajar. Manusiawi.

Lalu apa arti keluhan mereka? sekedar mengeluh karena sedang merasa sedih, lalu besok senang dan mungkin lusa mengeluh lagi karena dibuat sedih lagi oleh kondisi-kondisi tertentu di lingkungan mereka?

Beberapa orang mungkin sudah cukup aman berada di zona aman dan nyaman, apapun kondisi mental yang akan mereka hadapi. Beberapa lagi berpikir “seharusnya ada zona yang lebih baik di sana.” Tidak ada yang salah, semua berhak menentukan nasib mereka sendiri.

Sekarang, jika kondisinya semakin memburuk? zona yang mereka anggap aman dan nyaman justru membuat mereka tidak bisa berkembang, tertindas dan akhirnya terpaksa menjalani kegiatan-kegiatan mereka di situ. Sekali lagi saya selalu menyarankan “Melompatlah” dan sekali lagi pula mereka takut dan khawatir membayangkan keluar dari zona aman dan nyaman-nya.

Biasanya saya memberikan sedikit filosofi (saya bukan filsuf) tentang “Melompat.”

Mudah untuk dibayangkan, semua orang pernah melompat, bermain lompat-lompatan ketika kecil, semua orang setidaknya tahu bagaimana olahraga lompat jauh. Kita pun sekarang bisa membayangkan, apa yang terjadi pada diri kita saat kita melompat dari satu titik ke titik di depan kita, anggap saja sekitar 3 meter ke depan kita melompat.

Pertama kita akan mengambil ancang-ancang untuk melompat sambil melihat target titik arah kita melompat, menyiapkan keberanian dan keyakinan bahwa kita bisa melompat sejauh 3 meter ke depan. Kita perlu memeriksa apakah kaki kita tidak ada cedera parah untuk bisa melompat, perlu memeriksa, menganalisa apakah di titik 3 meter di depan ada pecahan kaca, apakah kita memakai alas kaki saat melompat? perlukah kita memakai helm?

Saat kita siap untuk melompat maka kita akan melompat. Lalu apa yang terjadi sesaat setelah kita mendarat di titik 3 meter di depan tersebut?

Paling buruk kita akan terjungkal sehingga memerlukan kedua tangan kita untuk menahan tubuh (posisi tubuh kurang lebih seperti posisi merangkak), normalnya kita akan mendaratkan kedua kaki dengan lutut menekuk sedikit dan bahkan kita akan berposisi jongkok. Lebih hebat lagi ketika mendarat kita hanya cukup membungkukkan badan kita. Jadi semua tergantung bagaimana kesiapan kita saat mendarat. Jangan lupa, ketika kita melompat sambil membawa barang (misal: tas) juga akan mempengaruhi posisi kita saat mendarat. Dan bukan tidak mungkin barang-barang yang kita bawa akan hancur bertebaran saat kita mendarat.

Semua posisi saat kita mendarat saya anggap sebagai resiko melompat. Semakin jauh melompat ke depan bisa jadi semakin di bawah kita terjatuh.

Setelah melompat, jatuh dan menangis, terjongkok, kita pasti berusaha untuk berdiri tegap lagi sambil merasakan nyeri pada lutut, telapak kaki, pinggang dan lainnya.

Kita mungkin harus jatuh sejenak, merangkak dan membungkuk setelah kita melompat keluar dari tempat kita bekerja sekarang, tempat dimana lingkungan kita tinggal dan kita pergi merantau (melompat) ke luar kota atau pulau atau negara lain.

Mental kita, kepunyaan kita akan jatuh, “merangkak”, “rendah” setelah kita melompat. Kita harus memahami itu, dan harus memahami juga bahwa kita harus dengan kesadaran penuh untuk bisa berdiri lagi. Mengumpulkan lagi tenaga yang tersisa, “mengobati” luka-luka hati (kehilangan sahabat, pacar) dan luka-luka fisik (kehilangan harta) dengan berbagai pengalaman yang kita punya dan pada akhirnya kita bisa beridir tegap lagi.

Tapi di sinilah justru kita sudah membuat langkah (keputusan penting) berani untuk melompat. Di titik berikutnya pasti ada sesuatu yang baru, yakinkan itu. Teman-teman baru, pekerjaan baru, gaji baru, karir baru, masalah baru yang akan memperkaya kita, membuat kita sebagai manusia lebih bisa berkembang (mental dan fisik). Kita akan semakin matang. Ingat, di belakang kita akan selalu bermunculan bibit-bibit yang membutuhkan kita untuk mereka jadikan contoh, panutan, teladan, semangat dan kita harus siap membantu mereka mengajarkan bagaimana melompat yang aman.

Apakah sekarang kita merasa cukup atau malah semakin tidak bisa berkembang di titik yang baru? Melompatlah lagi. Banyak titik yang harus di lalui hingga pada akhirnya Titik yang paling ujung bisa kita capai. Bersiaplah, melompat, pahami resikonya dan kuasai titik-titik di depan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s