Maaf, Klien Bodoh Dan Keras Kepala…Enyah Saja!

Saya desainer. Lebih dari lima tahun berpengalaman sebagai desainer grafis, baik di perusahaan, komunitas maupun bekerja sendiri.

Banyak klien juga sudah saya layani. Bermacam-macam karakter.

Satu karakter yang paling menyebalkan adalah klien yang bodoh, sok tahu dan keras kepala. Ditambah lagi yang terparah adalah ternyata dia tidak punya cukup uang untuk membayar jasa desain profesional seperti saya.

Ketika bekerja sebagai desainer, saya selalu berorientasi pada hasil yang bagus, baik, sesuai dengan tujuan dan kegunaan desain tersebut. Namun, beberapa klien justru membuat karya-karya saya mejadi buruk dan membuat saya malu untuk menjadikan karya tersebut sebagai portofolio.

Mereka terlalu keras kepala untuk tidak mendengarkan saran-saran, solusi, penyesuaian-penyesuaian desain dari saya. Padahal sebagai desainer, sebagai perancang dan perencana, saya ingin hasil yang dicapai benar-benar sesuai dengan keinginan klien namun tetap menjunjung kaidah-kaidah yang dapat membuat sebuah desain menjad karya yang berguna.

Mereka juga terlalu bodoh dan sok tahu, menganggap diri mereka paling benar dan paling tahu soal desain, sehingga mereka skeptis terhadap saran-saran dan solusi atas desain. Mendesain tidak semudah menggoreskan pointer mouse pada lembar kerja di komputer atau memilih-milih jenis huruf, mencoba begitu saja warna-warna yang tersedia di bumi ini. Mendesain bukan sekedar menggambar bentuk dan bahkan mengambil gambar dari hasil pencarian di google (yang mungkin memiliki hak cipta).

Klien-klien yang seperti ini tidak memikirkan hal-hal tersebut di atas. Terkadang mereka juga menganggap sang desainer sebagai pekerja sosial, sebagai anak bawang yang tugasnya hanya menggambar di komputer.

Maaf! Desainer adalah perancang (kalau tidak mau dikatakan sebagai pencipta, creator). Contoh paling nyata adalah desainer bangunan (arsitek). Arsitek (yang berpengalaman) tentu lebih tahu dan lebih jeli akan hal-hal mendasar dalam merencanakan suatu bangunan. Seorang desainer grafis (tentu juga yang berpengalaman) sudah tentu lebih tahu hal-hal mendasar dalam mendesain, seperti konsep bentuk dan warna, tujuan penggunaan media aplikasi desain dan lain-lain ketimbang seorang Manajer Perpustakaan.

Ok lah mungkin beberapa orang menyukai dunia desain atau seni, tapi biasanya mereka menyukai dunia desain dan seni karena mereka melihat sebuah hasil (result) dan tidak mengetahui atau memahami proses penciptaan hasil tersebut, proses yang membuat sebuah karya menjadi bagus, dan fungsional!

Saya tidak lulus kuliah, namun sejak putus kuliah saya tetap menekuni bidang desain grafis (bukan sekedar komputer grafis). Saya desainer, perancang dan bahkan bisa dibilang pencipta sebuah karya desain. Jika ada klien yang tidak mau menghargai dan mendengarkan saran-saran, solusi atas desain mereka, saya lebih memilih tidak melanjutkan hubungan bisnis tersebut. Tidak butuh uang? Tentu saja butuh, tapi kebutuhan akan uang memiliki tolak ukur tertentu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s